Terdampar
(Kisah Perjoeangan Keturunan
Teukoe Oemar )
2
“ Cut. Cut. Cut. ”
kesabaran Bang Jamil teruji. Tapi ia berusaha menekan emosinya. Kania semakin
merasa bersalah juga terbebani. Mengendarai motor kali ini tidak berjalan
lancar seperti saat latihan, mungkin karena terlalu banyak yang
memperhatikannya. “ Nia, Nia. Lu rileks aja, ga usah nervous, ga usah gugup.
Cukup berjalan lurus, berhenti tepat di tanda tadi, ngerti kan? ”
“ Ngerti Bang. ”
“ Sekarang ready?
Atau mau break dulu?? ”
Kania menarik nafas
dalam-dalam, “ ready Bang. ” jawabnya mantap.
“ Oke. Tapi kalau
yang ini gagal lagi, kita break sementara. ”
“ Oke Bang. ”
Bang Jamil kembali
ke tempat, menatap serius pada layar monitor. “ Camera! Rolling and ..
Action! ”
Kania menatap ke
depan, lalu pada stang, ia mulai menarik gas perlahan dan memajukan motornya.
Jantungnya sedikit tidak tenang dan semakin tidak tenang saat mendengar suara
kucing liar saling bersahutan dengan nyaring.
“
Astaghfirullah!! ”
seekor kucing hitam loncat tepat di depannya, untuk menghindar, Kania lekas
berbelok ke arah kanan. Berniat untuk menarik rem, tapi ia salah bertindak. Ia
menarik gas yang membuatnya semakin melaju cepat. Semakin mendekat pada pohon
rindang nan besar, Kania teringat pada tarikan rem pada stang sebelah kanan.
Motor yang di kendarai nya tidak terkontrol dan Kania terhempas.
“
Aw!!! ” Kania merasa linu
hampir di sekuju tubuh, tapi ia tidak berani untuk mengeluh. “ Ngga apa-apa.
Ngga apa-apa. ” Ia melihat lecet ringan pada pergelangan tangannya. Sadar saat melihat
sekelilingnya terdapat pohon rindang dengan total lebih banyak, dan tidak
berjarak jauh. Yang paling aneh, Matahari berganti menjadi Bulan dalam sedetik.
Apa aku tadi pingsan???
“ di mana niiih??
” Kania semakin kebingungan berada di tempat yang tidak ia kenali. Tidak ada
siapapun untuk bisa ditanyai. Ia khawatir tersesat di area logistik syuting,
tapi tidak mungkin terlihat seperti hutan rimba. Matanya menangkap seseorang
yang sedang tergeletak di tanah, seperti orang yang sedang menikmati waktu istirahat,
ia terlihat sangat pulas.
Walaupun segan,
Kania mencoba untuk membangunkannya. “ Pak, bangun, pak. ” Namun orang itu
tidak bergerak, tubuhnya kaku kini jelas sekali ketidak normalan yang Kania
alami. Kania mendeteksi menggunakan hidungnya.
“ Haaahh!! Mayy..
” seseorang membekap mulutnya, Kania semakin panik dan berusaha melepas tangan
bekapan itu.
“ Diamlah .. ” terdengar
suara pria terengah. “ Jika kau berteriak, kompeni itu akan berbalik arah. Dan
nyawa kita akan terancam. ”
Kania tetap
memaksa membuka bekapan, dan rupanya tidak terlalu sulit. “ Kamu siapa? ” dalam
kegelapan malam yang hanya disinari cahaya bulan, Kania hanya dapat melihat
sepasang mata lemah yang menatap awas padanya.
“ Tidak perlu tahu
siapa aku! Bekerja samalah dan kita akan selamat. ” katanya sambil meringis
kesakitan.
“ Kamu terluka? ”
Tidak terlihat jelas, pria itu menekan sesuatu yang Kania tebak itu adalah
letak lukanya. “ Luka apa itu?? ” tanya nya.
Napasnya
tersengal-sengal, matanya separuh terbuka lalu tertutup. “ ini luka tebas. ”
ucapnya dengan sisa tenaga yang ia punya.
“
TEBAS?!!! ”
“ Ssshhhh!!!
Rendahkan suaramu. ” suaranya semakin melemah. “ Mereka tidak punya rasa ampun,
jangan sampai kita tertangkap. Kenapa wanita seperti mu bisa berada dalam hutan
ini? Kau mau cari mati! Atau tawanan yang sedang kabur? ”
Kania tidak
mengerti tentang ketidak beresan ini. “ Sebenarnya kalian sedang syuting apa
sampai terluka parah seperti ini? ”
“ Syuting? ”
Kania mengangguk.
Pertanyaannya dibalas dengan ringis kesakitan, “ sepertinya tidak akan bertahan
lama, luka ini semakin meradang, aargghhh. ”
“ Aku .. aku ..
aku harus apa? ” Kania menggigit bibirnya. Pria itu tidak menjawab, nafasnya
terdengar semakin melemah. Pikirannya kacau, berada di tempat yang tidak
dikenali, bersama pria yang terkena luka tebas ditubuhnya. Kompeni apa yang
dimaksudnya? Apa itu sebutan baru untuk salah satu sindikat begal??
Kania tidak bisa
membiarkan pria tergelak tak sadarkan diri, hingga meregang nyawa. Jika polisi
menemukan mereka, ia akan di tuduh sebagai pembunuh nya meskipun bukan Kania
yang menebas tubuh pria tersebut. Tidak ada yang menyangka bahkan dirinya
sendiri pun tidak percaya bisa membawa pria itu sambil terpapah-papah. “
aku .. akan menjadi seorang penyelamat, heh. ”
Kania melihat
gubug di tengah hutan, tidak ada pilihan lain, sementara ini gubug itu
satu-satunya tempat teraman untuk ditinggali sampai matahari terbit. Lengkingan
suara pintu saat di dorong terdengar, Kania masuk berusaha tanpa terdengar
gaduh. Rupanya, gubug ini sedang ditinggalkan oleh pemiliknya. Kania mencari
tombol lampu untuk menyalakan penerangan, tapi tidak ada, selain sebuah sumbu
yang menggantung pada dinding kayu.
Kania ingat betul
cara menggunakannya, pikirannya yang melayang lagi-lagi memikirkan bagaimana
ada orang yang masih menggunakan cara kolot untuk bertahan hidup?? Tapi tidak
ada tanpa alasan, mungkin saja pemilik gubug memang tidak bisa menggunakan
listrik karna alasan tertentu. Kania membuka corong berbahan dasar kaca, tidak
jauh dari sana terdapat sebuah korek api aneh yang cover bungkusnya
belum pernah ia lihat, di bakar sumbu itu lalu corong kaca kembali ditutup
untuk menjaga api tetap menyala tanpa terganggu oleh angin kencang yang bisa
memadamkannya.
Dengan penerangan
remang, Kania bisa melihat jelas tebasan pada pria yang tidak dikenalnya. Kania
menatap ngeri, luka itu panjangnya bisa mencapai 30 centi lebih. Baju tipis
yang dipakai pria itu sobek mengikuti bentuk luka tebas di tubuhnya. Seperti
perawat sesungguhnya, Kania merobek baju yang dikenakan sampai terbelah dua.
Lalu mencari air yang ia temukan pada sebuah gentong dari tanah liat. Air nya
terasa dingin dan segar di permukaan kulit. Kania mengambil sisa kain yang di
kiranya steril untuk membasuh darah.
“ Seandainya ada
Betadine, alkohol juga rivanol. Hmm, aku pun perlu perban untuk membalut
lukanya. ” Kania menggeleng kepala, ketebalan luka itu bisa mencapai kedalaman
8-9 Senti. Inti dari gambaran itu semua, intinya ini luka serius dan dalam.
Dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari ketika mengikutinya pelatihan Saka
Bakti Husada. Kania teringat obat ampuh yang memiliki anti-peradangan.
Kania menghancurkan daun sirih dengan gigitan lalu dibalurkan pada luka tebas,
“ Hoek! Mmmmm, aneh, cuih, pait!! ” terasa kebal pada daerah gusi, ia bisa
merasakan sisa-sisa daun sirih di dalam mulutnya. Daun sirih memiliki sifat
antibakteri, serta mengurangi rasa sakit. kemudian ia lilitkan dengan kain
bersih yang ia temukan dalam lemari baju kumuh.
“ Selesai.. ”
Kania menepuk telapak tangan, melihat hasil jerih payahnya dalam mengobati
seseorang. Setidaknya, cara ini bisa menghentikan pendarahan. Kandungan tannin
dalam daun sirih tersebut membantu tubuh menutup luka. Zat tannin akan
mempercepat respon sehingga pendarahan akan berhenti dalam waktu lebih cepat.
Daun sirih juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh seseorang sehingga
peradangan yang terjadi di dalam tubuh cepat membaik.
Dengan otak
kecilnya, Kania menyusun sebuah rencana. “ Jika pemilik gubug pulang, aku akan
menjelaskan semuanya. Dan paginya, aku akan mencari jalan keluar dari hutan
ini. ” Kania masih tidak mengerti, bagaimana dirinya bisa sampai di hutan??
Kemana sepeda motor yang ia gunakan, para crew juga peralatan syuting pun
tiba-tiba hilang dalam sekejap.
Sebenarnya,
apa yang sedang terjadi pada dirinya???
Komentar
Posting Komentar